Sentuhan Raja Midas

  • Dewi Sartika
26 November 2025 - 06:31 WIB 0 Comments 63
Lukisan Silenus & Raja Midas karya Giulio Bonasone (Sumber: wikimedia)
Lukisan Silenus & Raja Midas karya Giulio Bonasone (Sumber: wikimedia)

Ukuran Font
Kecil Besar

Kerajaan Frigia sedang muram. Panen bunga mawar yang melimpah tahun ini tak mampu menyelamatkan Raja Midas dari kemurungan. Sebuah peristiwa menjelang panen menjadi penyebabnya.

“Bagaimana jika Yang Mulia menemui Dewa Dionysus untuk memintanya mencabut anugerah yang telah diberikan kepada Yang Mulia?”

Raja Midas yang sedang menopang dagunya itu menoleh kepada penasehat kerajaan, orang terdekatnya. Ia berdiri.

“Lalu aku akan kehilangan sentuhan ini? Aku sangat menyukai emas.” Tangannya terangkat agak tinggi sebelum menggeleng.

“Lalu sampai kapan Yang Mulia akan bertahan? Bahkan untuk melakukan segala sesuatu, Yang Mulia membutuhkan orang lain termasuk ….” Penasehat kerajaan tak melanjutkan ucapannya.

“Hei, aku ini raja. Wajar jika para pelayan harus tunduk kepada perintahku.” Nada bicara Raja Midas mulai meninggi.  Teringat ia saat pelayan harus menggaruk selangkangannya yang gatal.

Penasehat kerajaan terdiam. Pikirannya mengembara ke beberapa waktu lalu. Menjelang panen, kegemparan terjadi di istana. Silenus, satir tua sekaligus guru Dewa Dionysus tersesat setelah terpisah dari kereta anak didiknya itu. Dalam kondisi mabuk, Silenus meracau kemudian tak sadarkan diri.

Silenus terkapar di taman bunga mawar milik putri kesayangan sang raja. Tangannya mengenggam gelas anggur. Pengawal istana menemukannya lalu melapor kepada Raja Midas.

“Kau tahu siapa siapa dia?” tanya Raja Midas kepada penasehatnya sewaktu keduanya tiba di kebun bunga.

Tak hanya mereka berdua saja, sejumlah petinggi istana turut mengerubungi Silenus secara melingkar.

“Hamba tak pernah melihatnya, Paduka.” Salah seorang di antara mereka berkata. Satu sama lain saling berpandangan kemudian menggeleng bersamaan seolah mengikuti komando.

“Apakah  itu Silenus, Ayah?” Suara Putri Cybele terdengar tiba-tiba dari belakang. Semua orang menoleh ke arahnya.

Putri Cybele tiba diiringi dua pelayannya. Ia berjalan ke arah Silenus membuat orang-orang yang tadinya mengelilingi lelaki itu membubarkan diri demi memberi jalan kepada sang putri. Usai melihat lebih dekat Silenus, Putri Cybele tersenyum kecil.

“Satir ini adalah Silenus, Ayah. Guru Dionysus. Kami pernah melihatnya ketika perayaan panen anggur di wilayah lain di Frigia. Silenus datang bersama muridnya.” Putri Cybele berusaha menyakinkan ayahnya. Ia menoleh kepada dua pelayannya yang berada di sampingnya.

“Benar, Paduka. Lelaki ini Silenus. Kabar yang kami dengar, dia memang suka mabuk. Bahkan di perayaan lalu, kami melihat Silenus menghabiskan anggur beberapa gelas,” ucap salah satu pelayan Putri Cybele.

Raja Midas mengalihkan pandangan ke lelaki tua dengan ekor kuda itu. Mulanya, ia agak tak percaya mendengar penuturan putrinya. Namun, mana mungkin putri kesayangannya itu berbohong untuk hal sepenting ini? Cybele, nama yang sama seperti ibunya, memang terkadang suka bercanda, tetapi untuk urusan sepenting ini, Raja Midas tak ingin meragukan kejujuran Cybele.

“Biarlah kita mengurusnya, Ayah. Setidaknya sampai Silenus siuman. Setelah itu kita kembalikan ke muridnya. Siapa tahu, Dewa Dionysus akan memberikan berkat atas kebaikanmu ini.” Putri Cybele berkata sembari kedua tangannya berada dibawah kepala Silenus.

Raja Midas mengangguk kemudian memerintahkan para pengawal untuk membawa Silenus ke istana. Selama sepuluh hari, Raja Midas merawat dan menjamu Silenus dengan baik. Ia bahkan mengalungkan mawar merah di leher Silenus sebagai tanda penghormatan. Sementara Silenus menghibur  orang-orang di istana dengan memainkan kecapi dan minum anggur. Semuanya bersenang-senang.

Silenus senang dengan perlakuan Raja Midas kepadanya, tetapi ia menolak tawaran sang raja agar tinggal lebih lama lagi di istana. “Tak mungkin aku tinggal lebih lama lagi, Dionysus pasti akan merasa kehilanganku. Anak itu tak mungkin berpesta pora tanpa kehadiranku,” katanya lalu terkekeh.

Sesuai permintaan Silenus, Raja Midas kemudian memerintahkan prajuritnya pergi ke suatu tempat sesuai yang diperintah Silenus untuk memberitahu Dionysus tentang keberadaan Silenus.

Dionysus datang dengan kereta yang ditarik empat kuda putih tanpa noda hendak menjemput Silenus. Kepada Dionysus, Silenus lalu menceritakan kebaikan Raja Midas kepadanya.

“Kau sudah memperlakukan guruku dengan mulia. Mintalah kepadaku suatu hal?” Wajah Dewa Dionysus berseri-seri karena kesedihannya berakhir begitu bertemu gurunya.  

Mulanya, Raja Midas berpikir keras hal apa yang akan dipintanya. Begitu sepasang matanya tertuju kepada Putri Cybele yang mengenakan kalung emas seketika itu juga senyumnya merekah. Raja Midas sangat menggandrungi emas.

“Wahai Dionysus yang Agung, berilah aku berkatmu agar apapun yang kusentuh berubah menjadi emas.”

Permintaan Raja Midas membuat Putri Cybele terperangah. Ia berusaha melayangkan keberatannnya. Namun, kalah cepat dengan Dionysus yang menyanggupi permintaan ayahnya.

Setelah kepergian Dionysus dan Silenus, Raja Midas bersuka cita. Ia mengangkat kedua tangannya. Sementara Putri Cybele tak dapat menyembunyikan kekhawatirannya.

Mulanya, Raja Midas sangat senang karena koleksi emasnya makin menumpuk. Namun, hidupnya mulai diselimuti kesusahan. Apapun yang ia sentuh berubah menjadi emas termasuk makanan. Terpaksa, ia harus disuapi. Kendati begitu, Raja Midas menolak meski penasehat kerajaan telah beberapa kali membujuknya untuk mencabut kembali anugerah yang diberikan Dionysus.

Teriakan Raja Midas kepada pengawalnya membangunkan penasehat kerajaan dari lamunannya. Gagal membujuk Raja Midas, ia terus memutar otak agar Raja Midas mau menemui Dionysus dan mencabut anugerah yang dimiliki Raja Frigia itu. Tiba-tiba muncullah sebuah ide.

“Bagaimana jika Yang Mulia menemui Dewa Dionysus dan ….” Penasehat kerajan membisikkan sesuatu ke telinga Raja Midas.

Senyum Raja Midas melebar mendengar usul penasehat kerajaan lalu memuji penasehat kerajaannya.

Kini, hidup Raja Midas berjalan normal kembali. Ia tak butuh  pelayan untuk melakukan hal-hal yang bersifat pribadi. Namun, bukan berarti Raja Midas sudah kehilangan sentuhan emasnya.

“Jangan hilangkan sepenuhnya anugerah yang telah kau berikan kepadaku. Sentuhan emas tanganku ini hanya berlaku jika aku sedih saja.” Raja Midas mengucapkannya dengan yakin di hadapan Dionysus.

Dionysus bertanya kepada Raja Midas mengapa hanya pada momen sedih saja sentuhan emas hanya berlaku. “Karena aku jarang bersedih. Hidupku senantiasa diliputi kesenangan,” jawabnya pasti. Kembali, Dionysus menyanggupinya  sekaligus mengingatkan bahwa Raja Midas  tak bisa lagi menarik anugerah yang telah diminta.

Di istana, Raja Midas mengadakan pesta sebagai rasa syukur. Ia begitu yakin tak akan mengalami kesedihan. Satu-satunya kesedihan yang pernah menimpanya adalah saat kehilangan emas. Jika emasnya hilang  atau berkurang, ia tinggal menyentuh sesuatu kemudian berubah menjadi emas.

Ditengah kemeriahan pesta, sekonyong-konyong datanglah  Putri Cybele. Ia terisak. Seketika Raja Midas menghentikan pesta. Di hadapan ayahnya dan orang banyak, sambil berlelehan airmata, Putri Cybele bercerita, Apollo telah menganggunya. Raja Midas turut bersedih. Wajahnya juga memerah mengetahui putrinya mendapatkan perlakuan buruk.

Raja Midas turun dari singgasananya, bergerak ke arah Putri Cyebele. Karena lupa akan perkataannya Dionysus, ia menyentuh pundak putrinya. Bermaksud untuk menenangkan Putri Cybele sebelum mendekap tubuh sang putri.

Penasehat kerajaan beserta orang-orang yang menghadiri pesta seketika terhenyak menyaksikan pemandangan yang baru saja terjadi. Belum sempat keinginan Raja Midas tercapai, betapa kagetnya ia mendapati tubuh Putri Cybele tiba-tiba berubah kaku dan membatu. Raja Midas terus berteriak histeris dan tersedu-sedu seraya terus-menerus memegang tubuh  sang putri yang telah menjadi patung emas.

* Raja Midas merupakan salah satu tokoh dalam mitologi Yunani

TOPIK:
  • Dewi Sartika

    Penulis kelahiran pesisir utara Lamongan, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (jurnalistik) yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, budaya, dan film. Anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi. Penulis dapat dihubungi melalui email: dewisartika.naura@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *