Kebanyakan dari kita mungkin sudah nggak asing dengan bunga telang. Bunga yang memiliki warna biru khas ini memang cukup populer beberapa tahun terakhir. Dari yang tadinya dianggap sebagai tanaman liar biasa, kini bunga telang diburu untuk dijadikan minuman herbal, bahkan kini banyak bermunculan produk bunga telang.[1]
Di Indonesia, terdapat dua spesies bunga telang yang cukup populer, yaitu Clitoria ternatea (dari Ternate) dan Clitoria javanica (endemik Jawa). Namun, yang populer untuk dijadikan minuman herbal adalah Clitoria ternatea, terutama sejak COVID-19 di mana terdapat penelitian terkait manfaat kesehatan dari bunga ini.[2]
Bunga telang mengandung antioksidan tinggi yang membantu melindungi tubuh dari radikal bebas. Teh bunga telang membantu meredakan stres dan menenangkan pikiran. Bunga telang juga baik untuk kesehatan kulit karena memiliki sifat anti-inflamasi. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ekstrak bunga telang dapat membantu meningkatkan memori dan kemampuan belajar.[3]
Manfaat lain dari teh bunga telang antara lain menjaga kesehatan mata, membantu meredakan nyeri ringan, dan menjaga tekanan darah tetap stabil. Selain itu, teh bunga telang juga bermanfaat untuk meningkatkan kesehatan jantung, menurunkan risiko terkena diabetes, menurunkan berat badan, dan mengatasi diare.[4]
Dan sebenarnya, masih banyak manfaat kesehatan yang dapat diperoleh dari minuman herbal ini.
Sejak lama bunga telang dikenal sebagai pewarna biru alami karena kandungan antosianin di dalamnya, yaitu pigmen alami yang berwarna biru pada pH netral.
Menariknya, warna biru alami teh bunga telang dapat berubah jika pH campurannya berubah, misalnya menjadi ungu saat ditambahkan perasan jeruk nipis atau lemon, dan menjadi merah terang saat dicampur dengan rosela. Perubahan warna ini terjadi karena teh bunga telang akan menyesuaikan dengan pH campurannya.[5]
Beragam resep teh bunga telang dan campurannya bisa ditemukan di Cookpad (klik tautan nomor 6 di bawah), di mana teh telang bisa dicampur dengan sereh, kayu manis, madu, dan berbagai bahan lainnya dengan takaran yang sesuai.[6]
Terdapat tokoh penting dalam sejarah Jawa Kuno yang namanya diambil langsung dari nama kuno bunga telang. Dialah Mahisa Wonga Teleng, putra sulung Ken Arok dan Ken Dedes yang disebutkan dalam Pararaton. Menurut prasasti Mula Malurung, Mahisa Wonga Teleng merupakan ayah dari Narasinghamurti atau Mahisa Campaka, leluhur raja-raja Majapahit.[7]
Dalam bahasa Jawa Kuno, wonga berarti bunga dan teleng sama dengan telang. Menurut kamus Jawa Kuno, istilah teleng sendiri berarti pusat, titik terdalam, atau bagian terdalam. Diduga nama bunga telang merujuk pada bagian terdalam wanita, lantaran bentuk bunganya yang menyerupai itu.
[]
Suka mempelajari sejarah, khususnya Jawa Kuno. Pernah menjadi tutor ekstrakurikuler Jurnalistik, menerbitkan beberapa novel dan antologi, menjadi editor majalah seni dan budaya lokal di Blitar, serta editor beberapa buku terbit. Kini seorang ibu rumah tangga dengan satu anak, sambil bekerja freelance di beberapa bidang. TikTok: @pustakamega
Leave a Reply