Sabtu malam di awal Juli lalu, saya mewanti anak-anak untuk bangun pagi. Tentu saja, bukan tanpa sebab. Salah satu alasan kenapa dua anak saya ini antusias sekali kalau diajak pulang kampung adalah mengunjungi Pelabuhan Brondong. Ya, meski letaknya di Desa Sedayulawas, tetapi pelabuhan ini mengambil nama Brondong yang tak lain nama kecamatan.
Si kecil sudah heboh sendiri menyebutkan beberapa makanan yang ingin ia beli. Begitu juga si sulung yang sudah mendata apa saja yang ia inginkan. Tentu saja, saya tetap memberikan batasan maksimal berapa Rupiah per anak untuk budget makanan yang rencananya akan dibeli. Minggu, pagi, meski terbilang sudah agak siang, dengan menaiki motor, kami bertiga menuju arah Barat. Hanya butuh sekitar lima menit saja kami tiba di Pelabuhan Brondong. Letaknya memang tak begitu jauh dari rumah.
Dua anak saya yang semula riang mendadak wajahnya keruh. Tak seperti biasanya, hanya sedikit motor yang terlihat. Palang yang menjadi penghalang kendaraan juga masih dalam posisi melintang alias tidak terangkat. Saya kemudian memberitahu mereka bahwa Pasar Minggunya tidak buka. Pasar Minggu, begitulah saya menyebutnya. Sebenarnya sebutan ini juga patut diperdebatkan mengingat pasar dadakan ini enggak hanya ada di Hari Minggu saja. Hanya saja, saya mengambil nama ini untuk mempermudah penyebutan saja mengingat memang tak ada nama resmi untuk pasar dadakan ini. Nama Pasar Minggu sendiri terinspirasi dari kegiatan sejenis yang ada di Kota Malang.
Tak seperti di Kota Malang, Pasar Minggu di Sedayulawas sebenarnya ada di Hari Jumat juga. Mengapa dipilih Hari Jumat? Di Sedayulawas dan sekitarnya sendiri, aktivitas belajar di sekolah libur di hari tersebut. Ini berlaku untuk sekolah-sekolah swasta Islam sementara sekolah-sekolah negeri tetap libur saat Minggu. Makanya, pasar ini diadakan di dua hari itu.
Dipilihnya Pelabuhan Brondong juga bukan tanpa alasan. Dibanding lapangan desa yang kondisinya kurang begitu baik terutama di musim hujan, Pelabuhan Brondong jelas lebih representatif terutama karena lahannya yang luas dan berada tepat di tepi Laut Jawa. Tempat ini juga mampu menampung banyak kendaraan baik roda dua maupun empat. Di Hari Jumat dan Minggu, biasanya para pedagang maupun pengunjung akan berbondong-bondong memenuhi tempat ini. Ada yang melakukan olahraga, ada juga yang hanya sekadar cuci mata atau duduk saja.
Kebanyakan penjual di Pasar Minggu lebih banyak menjajakan kuliner. Tiap kali ke sini, si sulung ke sinia, ia sudah punya menu favorit, dimsum dan kue mochi. Sementara si kecil masih setia dengan jajanan sempol ala Sedayulawas yang menurut saya lebih mirip nugget.
Baru saya ketahui di kemudian hari ternyata Pelabuhan Brondong sedang dipermak dan Pasar Minggu pindah ke area parkir Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang jaraknya cukup jauh, kurang lebih 30 hingga 45 menit dari Sedayulawas. September lalu, saya pun mengajak dua anak saya ke sana. Setibanya di sana, agak kaget juga. Suasananya tak semeriah di Pelabuhan Brondong. Yang berjualan lebih sedikit begitu juga para pengunjung. Seperti ada sesuatu yang hilang menurut saya.
Tak ada kuliner kesukaannya, ia pun terpaksa membeli makanan lainnya. Begitu juga si bungsu sedangkan saya memutuskan untuk membeli telur ikan. Ada beragam telur ikan yang dijual, suatu hal yang tidak bisa ditemukan sewaktu Pasar Minggu ada di Pelabuhan Brondong. Hanya mengeluarkan lima ribu Rupiah saja, pembeli bisa memilih berbagai jenis telur ikan. Ya, mungkin ini sisi baiknya Pasar Minggu pindah ke Paciran karena di Sedayulawas sendiri cukup sulit menemukan penjual olahan telur ikan.
Penulis kelahiran pesisir utara Lamongan, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (jurnalistik) yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, budaya, dan film. Anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi. Penulis dapat dihubungi melalui email: dewisartika.naura@gmail.com
Leave a Reply