“Bu, pohon mangganya sudah berbunga belum?” tanya saya melalui WA sekitar September lalu.
“Kayake mangga e enggak dadi (gagal berbuah).” Ibu membalas dengan singkat.
Dan, benar juga sampai November ini tidak ada kiriman mangga dari Lamongan. Padahal tahun lalu saya sekeluarga mendapat dua kali kiriman via travel, empat kardus besar berisi mangga. Panen mangga tahun ini mengalami kegagalan di Sedayulawas. Padahal suami saya dan anak pertama amat suka dengan buah ini. Terpaksa, tahun ini mereka harus ‘puasa’ mengkonsumsi mangga dari Lamongan.
Di desa, ibu memang mempunyai sebidang tanah atau orang desa menyebutnya tegal yang ditanami berbagai jenis mangga seperti gadung, golek, saren, manalagi, dan madu. Dulu, saya pernah menghitung berapa banyak pohon mangga di tegal, kurang lebih ada dua puluh pohon. Maka, jangan ditanya sewaktu musim mangga, kami bisa panen beberapa kali.
Saking banyaknya, mangga-mangga tersebut kami bagi-bagikan ke tetangga terdekat dan keluarga besar yang tidak punya tegal. Ibu memang tidak pernah menjual mangga-mangga yang dipanen sendiri. Namun, adakalanya karena malas memanen, mangga-mangga tersebut ditebaskan (dijual semuanya) ke pengepul. Biasanya, akan ada pengepul yang mendatangi tegal-tegal untuk menebas mangga di tegal.
Mangga dari Sedayulawas tak hanya disukai suami maupun keluarga tante atau budhe di Malang. Jangan salah, mangga Sedayulawas juga pernah kami ‘ekspor’ ke kampung halaman Abah di Balikpapan saat Abah masih hidup. Keluarga Abah memang sangat menggemari mangga dari Sedayulawas.
“Mangga Sedayu itu manis, beda sama di Malang. Mungkin karena pengaruh iklim, di sini kan lebih dingin,” ujar suami saya ketika kami awal-awal menikah dulu. Ia memang sangat menyukai mangga yang dipetik dari tegal kami. Di musim mangga, ia mampu menghabiskan lebih dari tiga mangga ukuran besar dalam sehari.
Selain mangga, hasil dari tegal yang yang disukai suami adalah nangka. Sayangnya, tak seperti dulu, pohon nangka di tegal jarang produktif kalau pun berbuah lebih sering buahnya rusak duluan. Karena mangga dan nangka ini juga, suami pernah mengalami kejadian enggak menyenangkan sewaktu balik ke Malang. Ceritanya, saat kami masih LDM (Long Distance Marriage) lalu ia balik menaiki bus, perutnya mules karena kebanyakan makan dua buah tersebut. Dulu, suami memang sering ‘khilaf’ kalau ada nangka dan mangga.
Saking sukanya suami dengan mangga, saya juga pernah rela pulang kampung ketika musim mangga agar ia bisa menikmati buah ini. Untung saja, saat balik ke Malang saya menggunakan travel. Namun, pernah juga saya membawa mangga ke Malang sejumlah hampir lima atau enam kardus dengan menaiki bus sekitar tahun 2018. Tentu saja, saya tidak sendiri, saya bersama adik menumpang paman yang ke Surabaya dengan mobilnya.
Mangga gadung menjadi favorit suami di antara mangga-mangga yang lain. Apalagi kalau mangganya masak di pohon, manisnya kebangetan. Pernah ia saya tawari mangga golek, ia menggeleng. Padahal mangga golek juga enggak kalah manis. Ia baru mau makan mangga ini kalau tak ada gadung. Sebenarnya ia juga suka mangga madu. Bentuk mangga ini lebih kecil dan pohonnya di tegal juga tak banyak, antara 1 hingga 2 pohon saja. Itu pun jarang dipetik karena pohonnya terlalu tinggi dan susah dipanjat.
Sewaktu pulang kampung, suami yang jago manjat ini biasanya akan memanjat beberapa pohon sementara saya berada di bawah untuk mengambil buahnya. Selama memanjat, seringkali ia harus berhadapan dengan semut merah besar. Kami biasa menyebutnya rangkang. Namun, percayalah, usahanya memanjat sebanding dengan saat menikmati mangga. Sesudah memanjat, biasanya kami akan memilah-milah mangga. Ada yang masih mentah, ada juga yang sudah agak masak dan ini yang paling penting, ada mangga yangs udah digerogoti codot (kelelawar). Mangga terakhir inilah yang biasanya menjadi rebutan kami untuk dimakan.
Bagi orang desa, musim mangga berarti waktu nge-cap. Meskipun kegiatan ini dari waktu ke waktu makin berkurang yang melakukannya, tetapi nge-cap di tegal menjadi keasyikan tersendiri. Saya pun teringat semasa SMP dulu. Bersama teman-teman sekolah, kami nge-cap bersama. Yang laki-laki bagian manjat untuk mengambil mangga yang belum matang (setengah matang) sementara yang perempuan menyiapkan kecap plus lombok yang dipotong kecil-kecil. Di atas tikar, kami menikmati mangga muda yang dicocol dengan kecap. Inilah yang disebut nge-cap.
Penulis kelahiran pesisir utara Lamongan, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (jurnalistik) yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, budaya, dan film. Anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi. Penulis dapat dihubungi melalui email: dewisartika.naura@gmail.com
Leave a Reply