Saat mantan Presiden Libya yang berhasil digulingkan melalui Arab Spring, Muammar Khadafi berkuasa, sebagaimana pemimpin negara pada umumnya, ia memiliki pasukan pengawal pribadi. Namun, berbeda dengan pasukan pengamanan presiden yang lebih didominasi kaum adam, pengawal pribadi Muammar Khadafi ini adalah pasukan perempuan. Namanya Garda Amazon yang namanya diambil dari prajurit Suku Amazon sebagaimana yang terdapat dalam film Wonder Woman.
Jauh sebelum pasukan pengamanan Presiden Muammar Khadafi, di Jawa sendiri pernah ada pasukan pengawal perempuan yang bertugas untuk melindungi raja, bernama Prajurit Estri. Bahkan, pejabat senior VOC, Rijklof van Goens yang pernah berkunjung ke Keraton Mataram memberi informasi mengenai pasukan elite ini. Dari penuturannya, bahwa pasukan ini terdiri dari 150 perempuan muda yang dilatih menggunakan senjata. Tidak hanya itu saja, mereka juga membawakan tarian, menyanyi, dan memainkan alat musik.
Pembentukan Prajurit Estri sendiri dibentuk Sultan Hamengkubuwana I pada abad 18. Namun, baru di pemerintahan Sultan Hamengkubuwana II-lah, kiprah pasukan ini terlihat jelas. Prajurit Estri yang semula dibentuk sebagai pelindung putra mahkota, naik tingkat dengan ditugaskan menjaga keamanan keraton dan keluarga sultan. Hal ini berangkat dari ketidakpercayaan Sultan Hamengkubuwana II terhadap kaum laki-laki yang dinilai memiliki bibit sifat tidak setia meski saat itu ada juga prajurit laki-laki.
Keberadaan Prajurit Estri sebagai pasukan tangguh ini diyakini sebagai obsesi Sultan Hamengkubuwana Kedua mengingat permaisuri pertama sang ayah (Sultan Hamengkubuwana I), Ratu Ageng sekaligus ibu tiri Pangeran Diponegoro pernah memangku jabatan Komandan “Korps Srikandi” kesultanan di masa-masa awal Keraton Yogyakarta.
Sebagaimana anggota Garda Amazon milik Muammar Khadafi yang dikabarkan harus perawan, para perempuan yang menjadi bagian dari Prajurit Estri haruslah memiliki syarat-syarat tertentu seperti berparas cantik, rapi, ramah, dan memiliki kecerdasan. Hal ini membuat para suami atau bapak-bapak mengeluh karena istri-istri maupun anak-anak perempuan mereka dipaksa untuk menjadi Prajurit Estri oleh Raden Mas Sundara yang saat itu masih menjabat sebagai putra mahkota sebelum bergelar Sultan Hamengkubuwana II.
Meskipun berparas cantik dan terampil, tetapi para anggota Prajurit Estri jarang diambil sebagai selir raja. Namun, adakalanya mereka dihadiahkan kepada bangsawan untuk dijadikan istri. Menurut Francois Valentijn, misionaris dan ahli botani yang pernah berkunjung ke keraton, para perempuan yang diambil istri oleh bangsawan tampak senang karena nantinya suami mereka tak akan bertindak buruk terhadap mereka karena hal ini bisa mengundang murka raja.
Sebagai bagian dari pasukan militer, Prajurit Estri juga dibekali keahlian militer seperti menembakkan salvo, menunggang kuda sambil menggunakan bedil, dan bela diri. Keahlian yang dimiliki para Prajurit Estri ini sempat membuat heran pejabat senior VOC di akhir abad 18 atau awal abad 19, Gubernur Pantai Timur Laut Jawa, Jan Greeve. Saat kunjungannya ke Surakarta pada Juli 1788, dalam buku hariannya, ia mengisahkan ketika berada di Loji Belanda dan Kediaman Mangkunegaran, ia disambut para prajurit perempuan yang menembakkan salvo dengan teratur dan tepat.
Saat bertempur, Prajurit Estri akan memakai seragam “prajuritan”, pakaian sama yang dipakai bangsawan laki-laki ketika bertempur. Tak hanya di masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwana II saja dengan terjadinya Geger Sepehi, kiprah Prajurit Estri ini juga bisa dilacak sewaktu meletusnya Perang Mangkubumen di masa Sultan Hamengkubuwana I. Ketika meletus Perang Jawa, ditemukan jasad mantan pasukan Prajurit Estri dalam pasukan Pangeran Dipanegara yang mengenakan “prajuritan”.
Sayangnya, seiring waktu, keberadaan Prajurit Estri ini lalu menghilang terutama usai Perang Mangkubumen. Disinyalir, penyebabnya adalah terjadi perubahan kepemimpinan di Kesultanan Yogyakarta, fungsi militer di keraton menghilang serta terbatasnya dana untuk membiayai personel militer Prajurit Estri yang berimbas dihapusnya kesatuan ini dari lingkungan keraton.
Referensi
Penulis kelahiran pesisir utara Lamongan, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (jurnalistik) yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, budaya, dan film. Anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi. Penulis dapat dihubungi melalui email: dewisartika.naura@gmail.com
Leave a Reply