5 Simbol Kesempurnaan Lelaki dalam Budaya Jawa

  • Dewi Sartika
27 November 2025 - 09:51 WIB 0 Comments 33
Rumah Joglo (Foto: wikimedia)
Rumah Joglo (Foto: wikimedia)

Ukuran Font
Kecil Besar

Ada sebuah kisah menarik dibalik pernikahan Abdurahman Wahid (Gus Dur) dan Sinta Nuriyah yang dilaksanakan pada 1968. Meskipun kebenaran cerita ada yang meragukan, tetapi kisah ini kerap dikutip sebagai pelengkap tulisan. Ceritanya sendiri mengenai pernikahan mantan presiden RI itu yang dilakukan secara in absentia (jarak jauh). Penyebabnya,  saat itu Gus Dur berada di Irak sementara Sinta Nuriyah di Indonesia. Disebut-sebut, sebilah keris menggantikan ketidakhadiran Gus Dur.

Lalu, bagaimana bisa sebilah keris menggantikan posisi manusia dalam sebuah pernikahan? Dalam budaya Jawa, keris memiliki kedudukan istimewa. Benda ini tidak hanya mempresentasikan kejantanan, tetapi sebagai senjata,  simbol status dan nilai-nilai spiritualitas. Saking sakralnya dan dianggap bernilai magis, dalam budaya Jawa, sebilah keris dianggap mampu menggantikan pengantin pria yang karena suatu hal tak bisa hadir dalam pernikahannya.

Terkait keris ini pula, sebenarnya dalam budaya Jawa klasik ada sejumlah parameter hidup seorang lelaki itu dianggap sempurna. Sebagaimana budaya Jawa yang identik dengan penggunaan simbol, parameter ini diwakili dengan lima jenis kepemilikan yaitu wisma, curiga atau keris, kukila, perempuan dan turangga. Lima hal inilah yang harus dimiliki seorang lelaki terutama dalam berumah tangga sebagai syarat untuk mencapai kesempurnaan hidup.

  • Wisma

Wisma yang berarti rumah atau tempat tinggal. Seorang lelaki terutama yang sudah berkeluarga dianggap sempurna hidupnya jika sudah mempunyai rumah sebagai tempat tinggal bagi istri dan anaknya. Kata ini juga bisa dimaknai lain yaitu watak. Lelaki yang sudah menjadi kepala keluarga harus memiliki watak menyerupai samudra yang memiliki sifat luas dan dalam. Seorang kepala rumah tangga mampu mengayomi dan bersabar menghadapi segala kondisi.

  • Curiga

Dalam Bahasa Jawa tingkatan paling tinggi, krama inggil, curiga berarti benda berbahaya yang bisa mengenai tubuh manusia. Kata ini berasal dari curi (batu runcing) dan ga (raga atau badan)  yang kemudian merujuk pada keris.

Curiga sendiri bisa dimakna lain yaitu ketajaman akal budi yang nantinya digunakan kepala keluarga  untuk mencari solusi secara bijaksana dalam mengatasi permasalahan hidup. Selain itu,   seorang kepala keluarga juga harus mampu melindungi keluarganya.

  • Turangga

Selain memiliki arti kuda yang merujuk pada alat transportasi yang dimiliki sebuah keluarga (pada zaman dulu), turungga juga ditafsirkan lain. Seorang kepala keluarga harus mempunyai kekuatan mental serta siap tahan banting. Hal ini bisa jadi merujuk pada karakter kuda yang memang dikenal kuat terutama sewaktu melakukan perjalanan panjang.

  • Garwa

Seorang lelaki dianggap sejati apabila ia memiliki istri atau garwa. Dalam  Bahasa Jawa sendiri, kata garwa bermakna  belahan jiwa (sigaraning nyawa).  Dalam falsafah Jawa, istilah garwa ini bermakna pasangan suami-istri adalah sejiwa baik dalam suka dan duka. Seorang lelaki Jawa akan dianggap tidak wajar dalam kehidupan sosial Jawa  jika tidak beristri.

  • Kukila

Makna kukila ini memiliki dua pengertian. Secara harfiah, kata ini berarti burung. Hal ini merujuk pada kegiatan memelihara burung perkutut yang  dilakukan keluarga yang telah mapan secara ekonomi. Ini berarti seorang kepala keluarga harus berjuang untuk memperoleh kemapanan hidup.

Makna lain dari kukila ini bisa juga ditafsirkan  sebagai hal yang sangat penting memilih kosakata dan berucap yang baik-baik atau bijak saat menjalani kehidupan sehari-hari dalam berumah tangga. Dalam Bahasa Arab sendiri, kata kukila memiliki terjemahan “peliharalah ucapan (mulut)mu yang mana mengingatkan manusia agar senantiasa untuk menjaga tutur kata.

Referensi

Keris Dalam Perspektif Keilmuan. 2011 (cetakan kedua). Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.

Alif dkk. (2020). Akulturasi Budaya Jawa dan Islam Melalui Dakwah Sunan Kalijaga, 23, 154.

TOPIK:
  • Dewi Sartika

    Penulis kelahiran pesisir utara Lamongan, lulusan Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (jurnalistik) yang menyukai hal-hal yang berhubungan dengan sejarah, budaya, dan film. Anggota komunitas literasi serta telah menghasilkan sejumlah antologi. Penulis dapat dihubungi melalui email: dewisartika.naura@gmail.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *